Manja, mencaci!

Rumah, 29 Agustus 2016

23 hari setelah beranjak 22th umurku saat ini, sudah banyak apa yang ingin aku lukis melalui kalimat. Percuma aku simpan, busukpun tidak mungkin. Aku masih berada ditempat yang sama, dengan kebosanan yang masih sama juga tentang hidup yang harus berjalan dan nyawa yang menjadi titipan.

Teruntuk Tuan!

Tuan, ini aku yang kau ketahui dari mulai tangisan sampai sekarang, aku yg besar mungkin tidak sesuai rencana tuan. Tapi tuan tetaplah tuan bagiku dan tuhan kita masih sama. Kita dimanjakan oleh kesederhanaan yang tuan ajarkan kepadaku, jangan khawatirkan itu aku masih ingat semuanya dari mana aku berasal menjadi karakterku. Tuan kita sudah tidak tau lagi apa itu meja yang diatasnya tersimpan teh hangat untuk saling menikmati, aku terlalu lama diam bersama keputusan gilaku dan tidak masuk dalam jalur apa yang tuan inginkan, tapi ketahuilah cacian dari berbagai macam mulut bisa masuk kedalam telingaku tidak satupun aku caci kembali bahkan aku benci. Semua karna tuan mendidiku, dulu. Sekarang? oh tuan aku ini tetaplah aku, jangan samakan dengan kekejian dulumu atau kisah masa lalumu. Aku bisa berpaham apa yang aku inginkan dan aku lakukan.

Aku tidak ingin, tuan melihat nasi tapi aku melihat bangkai.

Teruntuk tuan, tak pernah bosan mulut berucap maaf. Maafkanlah kalimat dan aku karna ini adalah manja, mencaci.

Iklan

Bercintanya Mimpi dan Kenyataan

Bercintanya mimpi dan kenyataan tidak pernah berdampingan sejajar. Maka tanpa sebuah penantian dan keinginan yang mendasar keresahan itu lahir dengan teriakan-teriakan mengaung dalam pikiran, diam nyaman menanti keputusan atas dasar yang selalu salah dan tidak mau bertanggung jawab. Keresahan berjalan dengan nyaman tanpa melihat kebelakang apa dan kenapa dia lahir dalam otak, dia hanya mendasari untuk bersama pikiran saja, iyah aku merasakan itu saat ini, saat aku masih diam dan duduk di ruangan yang sudah belasan tahun aku diam, mungkin saja pintu tau berapa kali jumlahnya aku melewati dia entah pergi dengan kegembiraan atau balik dengan kekesalan. Andai pintu bukan benda mati mungkin enggan menerima yang punya memegangnya kemudian melewatinya, dinding ruangan adalah pendengar yang baik tanpa komentar aku yakin aku bakalan takut kiranya dinding mengomentari keluhanku atau cerita kebahagianku, di tambah lagi benda ini yang selalu aku sapa ketika kondisi apapun juga menghampiri, benda hasil jerih payah untuk memilikinya. Lantas apa yang membuat resah lagi wahai manusia pendosa? Memperbaikinya bukan kata yang sekali datang, mengubanya bukan keinginan yang pertama kali singgah, atau melupakan keresahan itu tidak pernah sama sekali aku pikirkan sebelumnya, yang ada hanya untuk mengahadapi. Mengahdapi untuk menjadikan keresahan ilusi yang bisa menjadi apapun yang kita mau, tanpa keresahan kopi pahit masih belum di katakan pahit, tanpa keresahan kebahagian belum aku namakan kebahagiaan, karna keresahan adalah lahirnya dari mimpi-mimpi yang tidak memiliki dosa, hanya kenyataan yang selalu di hakimi tanpa kesalahan.

Tentang Rindu!

Bukan hanya untuk menunggu
suatu kepastian yang dungu.
rasa ini tentang kata,
kata yang ku ingin sampaikan
bersama hati.

Angin selalu menyapa,
menyapa jarak antara kita.
Andai aku kumbang terbang,
kamu adalah bunga menjadi landas.
agar kita berjumpa dalam wangi.

Dan jarak adalah halangan !
biarkan,
doa harap selalu terucap.

Angin!

Datang menerpa tanpa bayang,
menyejukan tanpa sapaan,
menyapa tanpa terlihat.

Kau sejukan saat sepi datang,
memberikan kenyamaan terasa.
Walau tanpa bayang,
kau tercipta.

Dengan keindahan yang tidak terlihat,
mampu menerpa apa yang ingin kau sapa.
Jika dirimu adalah angin,
biarkan tetap menyapa walau bayangmu tak pernah nyata ada.

Kau hadir dengan senyuman,
walau hilang sesudah hebusan.

Setelah itu kau hilang dan datang
saat di butuhkan ataupun tidak,
terserah.

Rangkaian kisah tak pernah sempurna.

Bunga!

Tentang apapun jenis,
selalu terlihat manis.
Tetap mempesona setiap nama,
selalu mempunyai makna .

Dari tangkai hingga harum
tak pernah membuat kecewa,
karna tercipta untuk keindahan semata,
terserah mereka memakna tetaplah satu nama yang ada.

indah berarti jika di jaga,
layu tak bersemi andai tak di hampiri.
sampai waktu berkata kau pantas kumiliki seperti bunga dalam mimpi.

Rasa!

Ada hal yang tersimpan dalam asa,
tentang rasa yang mulai ada.
menerpa melintas jiwa,
mencoba meyakinkan apa yang dirasa.

entah pikiran atau perasaan,
semua sama tak pernah karuan.
mengungkapkan apa yg tersirat,
merasakan apa yang dirasa.

menanyakan rasa yang ada terhadap jiwa,
meyakinkan hati kecil yang terpencil.
tentang rasa yang mulai tumbuh tanpa asa.

rasa yang kurasa,
semoga mulai biasa terasa oleh dirimu pemberi rasa .

IlusifpenaFaluvie

Tulisan kisah yang tidak dapat di percaya.
Berupa khayalan kata untuk sebuah kalimat yang tidak memiliki nama.
Hasil buah pikir manusia ciptaan yaitu aku.
– 21 Juni 2016

Awalan kisah dimulai dari sini, di mulai dari rasa kegelisahan di hari tuaku kelak tidak memiliki rindu untuk membuka lembaran kenangan, aku masih percaya bahwa tulisan satu-satunya cara buah pikir manusia yang paling nyata.
kepedulianku kepada hasil sangatlah kecil apalagi untuk sebuah tulisan, dengan berani menulispun pikir aku itu merupakan keberhasilan, sebelum keberhasilan lainya datang mengampiri, karna menaklukan rasa takut di dalam sebuah kalimat tidaklah mudah, tidak seperti mencaci hasil karya orang lain.

Aku hanyalah si anak muda sekarang yang mencoba membuat suatu jejak lewat kata, membahagiakan pikiran melalui karya yang tidak nyata tapi tercipta.

kampung halaman,
dimana aku memulai ilusifpenafaluvie ini.